Learning Community

Eforia Teknologi Informasi di Institusi Pemerintahan

Posted on: 1 Juli 2010

Eforia teknologi informasi di institusi pemerintahan, mungkin perlu kita cermati bersama sebuah artikel yang ditulis oleh Febi yang notabene mencerminkan perkembangan TI di pemerintahan yang sangat tidak terencana dan terkesan hanya untuk proyek belaka, untuk memuaskan kantong-kantong para pejabat. Ironi memang tapi itulah kenyatannya, trus bagaimana negara kita bisa maju jika pemerintahan kita masih demikian primitifnya. Cobalah baca kemudian berilah komentar, saya yakin Anda yang bergerak di perusahaan IT atau praktisi IT yang sering mengikuti tender-tender pengadaaan Sistem informasi di instansi-instansi pemerintahan akan mengalami hal-hal dibawah ini atau malah lebih buruk lagi ……..

Pengalaman saya dalam 3 tahun terakhir mengikuti proses pengadaan sistem informasi untuk berbagai domain di instansi pemerintahan membuat saya merasa ironis, miris, walau tetap ada sedikit harapan positif untuk masa yang akan datang akan lebih baik walau harus dibayar dengan cost yang sangat tinggi. Cost dari eforia yang bercampur kolusi tanpa kompentensi di lingkungan institusi pemerintahan dalam pengembangan sistem informasi.

Eforia pengembangan sistem informasi di institusi pemerintahan dapat langsung kita kenali dari dokumen Kerangka Acuan Kerja (KAK) atau TOR pengadaan barang. KAK/TOR pengadaan sistem informasi di instansi pemerintahan sebagian besar disusun oleh konsultan resmi ataupun tidak resmi dalam artian disusun oleh rekanan yang memang telah diatur akan memenangkan tender nanti.

Ciri khas eforia yang ditangkap dari KAK/TOR pengadaan berbagai sistem informasi di institusi pemerintahan adalah: KAK/TOR isinya canggih tapi murahan.

Isi KAK/TOR yang canggih tapi murahan dapat dibagi lagi dalam dua kategori:

1. Kategori pertama adalah isi KAK/TOR telah cukup baik dan konsisten dari segi tuntutan teknologi. Tuntutan teknologi yang dituangkan dalam KAK/TOR cukup rapih dengan mengakomodasi teknologi yang state of the art. Masih ditambah lagi dengan cakupan tuntutan sistem yang sangat luas. Sayangnya, kecanggihan penuangan teknologi dalam tuntutan KAK/TOR hanya berupa copy & paste dari berbagai dokumen/artikel teknologi yang bisa didapatkan. Sehingga KAK/TOR kehilangan kemampuan untuk menakar beban yang dituntut/ditimbulkan oleh tuntutan realisasi teknologi dan cakupan sistem yang disyaratkan dalam KAK/TOR. Beban yang akan timbul seperti biaya, kualitas SDM dan waktu realisasi lepas dari takaran yang tepat si penyusun KAK/TOR. Hal ini bisa terjadi karena si penyusun KAK/TOR tidak memiliki pengalaman praktis dalam realisasi proyek dengan kapasitas seperti yang ia tuangkan sendiri dalam KAK/TOR. Alhasil, si pemenang tender yang juga sama-sama asal menang dan tidak menakar beban realisasi proyek mengalami mencret-mencret selama implementasi proyek yang menjadi terkatung-katung dengan kualitas gubuk reyot.

2. Kategori kedua adalah isi KAK/TOR tampak berusaha menuangkan teknologi state of the art dengan cara yang sangat murahan sehingga isi KAK/TOR menjadi tidak memiliki kualitas dan kehilangan integritas. Biasanya si penyusun KAK/TOR merasa baru menemukan beberapa istilah teknolgi informasi yang memukau dan langsung menuangkannya dalam KAK/TOR. Si penyusun KAK/TOR sendiri masih tidak menguasai istilah teknologi yang dia tuangkan dalam dokumen sehingga banyak salah tempat dan banyak pamer istilah. Saat ini istilah yang banyak diumbar dalam KAK/TOR misalnya teknologi Web 2.0, Web Services,  SOA, LDAP, Open Source, n-tier dan beberapa lainnya. Paling banter si penyusun KAK/TOR telah berhasil mengembangkan aplikasi sekelas ‘hello world’ dengan teknologi canggin dan dengan salah satu cara implementasi tanpa memahami keseluruhan enterprise arhitecture yang mungkin dan keluasannya.

Eforia teknologi informasi di instansi pemerintahan mengakibatkan salah urus dan menghamburkan dana ratusan milyar rupiah dalam satu tahun anggaran. Berikut beberapa contoh pokok yang saya alami langsung dalam 3 tahun terakhir :
Suatu proyek sistem informasi keuangan di instansi pemerintah pusat dengan dana pinjaman luar negeri ratusan milyar implementasinya tersendat. KAK/TOR proyek dinilai berbagai pihak sangat bagus tapi menurut saya tidak membumi karena tidak memperhitungkan beban implementasi dengan tepat. Vendor pemenang tender yang tentunya hanya semangat untuk menang tender menjadi ketiban beban yang sangat besar dan saya khawatir mereka menderita mencret kalau tidak ayan (he he hanya gurau lah), karena tuntuan TOR/KAK yang seperti mission impossible. Pihak Pembuat Komitmen dan Riksa Proyek dari instansi pemerintah sama sekali tidak memiliki kapabilitas teknis untuk mengukur kualitas sistem yang dihasilkan. Bahkan mereka hingga sekarang tidak tahu bagaimana bentuk sistemnya, jangankan kualitasnya.

Suatu proyek raksasa lain lagi untuk keperluan adminstrasi kependudukan di instansi pusat. Suatu malam sekitar jam 21 serombongan konsultan dari jakarta menemui saya di Bandung untuk konsultasi sistem yang penuh dengan bug. Konon sudah 2 bulan bug membandel dan tidak bisa ditemukan. Juga konon Pembuat Komitmen sudah marah-marah. Maka janjian mendadakpun saya terima. Ternyata kualitas sistem yang dibangun seperti kualitas sistem yang saya
bangun ketika saya kuliah di semester 2. Dari struktur data saja sudah ancur-ancuran, maka saya tidak lagi memeriksa flow logik. Bug beranak pinak dan sudah seperti kanker stadium paling parah. Saya tentu saja tidak bersemangat untuk menuntaskan pemulihan sistem, karena sistemnya bukan untuk dipulihkan tapi untuk dibuang dan diganti dengan yang lebih baik. Bug yang membandel selama 2 bulan saya tunjukan sebanyak 2 buah dan solusi untuk memperbaikinya. Bug 2 buah saja sudah makan waktu 4 jam hingga jam 1 pagi. Sisa bug yang entah berapa banyak lagi saya persilahkan untuk diperbaiki sendiri. Saya tidak mau terlibat lebih jauh dengan proyek salah urus. Kalau lain kali ada proyek baru dan ingin berhasil ya itu lain urusan (he he iklan).

Beberapa proyek di instansi pemerintahan lainnya, dengan dana puluhan milyar juga menampilkan tuntutan teknis yang canggih tapi murahan, seperti:

Harus memakai arsitektur SOA, implementasi dengan Web Services (teknolgi SOAP cs.). Tanpa ada latar belakang kenapa memilih SOA yang sesungguhnya suatu metodologi/arsitektur yang bisa diimplementasikan dengan berbagai teknologi (tidak hanya dengan SOAP cs.). Karena untuk membangun suatu sistem kelas enterprise, yang harus diperhitungkan bukan saja hanya koneksi berupa request client ke sisi web server dan lalu ke sistem database. Terus apa memang sistem yang diperlukan benar-benar memerlukan SOA dengan implementasi Web Services dgn SOAP cs? Si penyusun KAK/TOR menjadi tampak sangat mendambakan SOA dgn web services karena ia memang baru berkenalan.

KAK di instanasi lain mensyaratkan: menggunakan LDAP untuk user autentication. Mengapa menggunakan LDAP untuk user autentication ? Padahal LDAP cukup power full untuk metoda akses objek di jaringan logik sistem aplikasi tersebar seperti internet. Kenapa hanya user autentication saja? Tidak ada jawaban yang pasti, mungkin si penyusun KAK memang baru membaca atau mencoba LDAP untuk user autentication yang sesungguhnya tidak memberikan nilai yg jelas. Teknis lain mensyaratkan development tools harus open source tapi lucunya sistem operasi, sistem database semuanya disyarakatkan proprietary. Padahal justru development tools itu urusan developer karena bukan bagian deliverable dari sistem. Tampaknya si penyusun KAK memang baru saja menggunakan development tools yg open source. (KAK yang ini disusun oleh LPPM institut teknologi paling canggih di Indonesia).

Syarat 3-tier dari arsitektur sistem yang sayangnya ternyata pemahaman si penyusun sistem adalah terdiri dari: web user interface dgn HTML, web server dan sistem database. Suatu komposisi yang cukup ringan tapi dibesar-besarkan.

Syarat sistem aplikasi berbasis web (yang tentunya ada kelebihannya) seringkali hanya karena si penyusun KAK sama sekali tidak memiliki bayangan atau kemampuan bagaimana membangun sistem aplikasi tersebar berbasiskan LAN/WAN/Internet dengan arsitektur n-tier/tersebar tanpa menggunakan teknologi web dan HTTP.

Banyak contoh-contoh lain.

Tapi walaupun keadaan yang bagi saya sering mencurigakan dan juga ironis; saya tetap berharap SDM teknologi informasi di Indonesia terus berkembang ke arah yang lebih baik, lebih berkualitas. Bukan kuliatas asal comot. Semoga dana nasional tidak terhamburkan terus dan akhirnya dapat efisien dan tepat sasaran.

Salam Penuh Harapan

Febi Ahmad Hazairin
===================

6 Tanggapan to "Eforia Teknologi Informasi di Institusi Pemerintahan"

artikelnya bagus

setiap teknologi pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan. hanya orang-orang bijka saja yang mampu memilah milah.. tapi alangkahnaiknya. tanamkan iman dan takwa kepada generasi muda untuk menjadikan teknologi sebagai ajang berubah.. bukan ajang merusak.. terimakasih atas infonya… semoga barokah dan berguna bagi pembaca yang lain

sebagai orang yang bekerja di pemerintahan, membaca tulisan anda, saya malu dan merasa berdosa…artikel yang luar biasa menurut pandangan saya pribadi…

terima kasih atas infonya..
kunjungi juga http://elektro.unand.ac.id
terima kasih

http://doichwana.blogspot.com

hehehe… jadi inget tahun 2007 an waktu masih dengan yg dulu… waktu itu sih gimana caranya dapet untung yang segede-gedenya…. eh..pas dapet untung gede jg malah kebagiannya sedikit. maklum cuman pegawai… nasib…

Jadi, bagaimana baiknya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About me

Nama saya Andi

Disini kepengin share pengetahuan dan pengalaman. Jika kita tidak bisa memajukan Indonesia lewat pembangunan fisik maka marilah kita majukan Indonesia dengan pengetahuan sebagai bekal untuk generasi penerus.



Blog Stats

  • 211,472 hits
%d blogger menyukai ini: