Learning Community

Bagaimana Menciptakan Generasi Unggul ?

Posted on: 30 Januari 2009

Lingkungan keluarga merupakan wahana utama untuk menempa karakter anak-anak menjadi manusia unggul. Apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan orang tua?

“Beri saya seribu bayi, dan saya akan jadikan mereka seribu manusia seperti yang Anda inginkan,” kata John B. Watson, bapak psikologi modern. Lewat kata-katanya yang terkenal itu, Watson sebetulnya ingin menegaskan, betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap perkembangan hidup seseorang. Sebagai tokoh utama aliran behaviorism, ia bahkan berani menantang, tanpa menghiraukan latar belakang keturunan dan bakatnya, seorang anak bisa dibentuk menjadi apa saja: dokter, ekonom, ahli hukum, pengusaha, pendidik, politikus, atlet, seniman, dan sebut saja apa mau Anda.

Pandangan tersebut, meskipun sangat ekstrem (karena itu banyak penentangnya), ada benarnya juga. Setidaknya, Watson mengingatkan kita, betapa pentingnya peran orang tua mengantarkan masa depan anak. Jangankan Watson yang ilmuwan besar, dari obrolan “ngawur” orang-orang awam pun kerap terselip kebenaran, meski mungkin hanya secuil.

Jadi, kita pun perlu menemukan kebenaran dari para penentang Watson, terutama penganut aliran psikologi humanistik yang menekankan pentingnya anak dipandang sebagai manusia dengan eksistensi yang utuh. Menurut aliran ini, selain pengaruh lingkungan sosial, perkembangan anak juga sangat ditentukan oleh tingkat kecerdasan, minat, bakat, bahkan orientasi kehidupan spiritualnya. Jadi, perlu pula dipertanyakan, setelah “dicetak” menjadi dokter, ekonom, ahli hukum, pengusaha, pendidik, politikus, atlet atau seniman, bahagiakah mereka?

Kebahagiaan memang sangat relatif, dan sering menggiring kita dalam perdebatan klise. Tanpa perlu terjebak dalam argumentasi yang menjengkelkan, sebetulnya kita bisa menggunakan logika yang simpel-simpel saja. Misalnya begini, ada seorang anak dengan kecerdasan jauh di atas rata-rata. Karena ambisi orang tuanya, masuklah dia ke fakultas kedokteran ternama dan lulus cum laude. Setelah itu, tak ada prestasi yang pantas dicatat selain kepiawaiannya menimbun banyak uang dari para pasiennya. Dan, tentu saja, kata-kata penuh bangga yang tiada henti dari kedua orang tuanya.

Ceritanya mungkin akan lain jika otaknya yang cemerlang itu digunakan untuk menunjang bakatnya yang luar biasa di bidang seni lukis. Maklum, sejak kecil sebetulnya dia selalu bermimpi menjadi pelukis terkenal. Berbekal talenta besar dan antusiasmenya yang menyala-nyala, bukan mustahil impiannya itu bisa terwujud. Bahagiakah orang ini? Anda mungkin akan bilang, ah…itu sih relatif. Padahal, jawabnya sudah amat jelas: dia tidak bahagia. Bahayanya lagi, kita tentu sulit mengharapkan hadirnya karya-karya besar dari orang-orang yang hidupnya tidak bahagia, orang-orang yang secara tak sadar membenci dirinya sendiri.

Jujur harus kita akui, karena kurangnya wawasan atau demi ambisi pribadi, banyak orang tua di negeri ini yang masih saja gemar “menjerumuskan” anak mereka menjadi manusia dewasa yang bukan menjadi dirinya sendiri. Sialnya lagi, di luar kontrol kesadarannya, setelah tumbuh dewasa, orang-orang seperti ini biasanya mudah terseret dalam berbagai perilaku negatif sebagai mekanisme kompensasi atau pertahanan dirinya. Mengatasi penderitaan, tutur psikolog Nathaniel Branden, adalah kegiatan manusia yang paling mudah. Menjadi bahagia adalah yang paling sulit.

Ditarik dalam lingkup yang lebih luas, barangkali fenomena tersebut bisa sedikit menjelaskan, mengapa sudah sedemikian banyak sarjana dilahirkan di negeri ini, toh Indonesia masih saja tertinggal di berbagai bidang kehidupan dibanding negara-negara lain. Memang, semakin lama semakin terbukti, negara-negara yang maju peradaban dan perekonomiannya ternyata selalu ditopang oleh kemajuan di semua bidang kehidupan lainnya. Bukan hanya maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga di bidang sastra, filsafat, seni, dan olah raga. Bidang-bidang yang disebut terakhir – sastra, filsafat, seni, dan olah raga – dewasa ini bahkan sering dijadikan simbol untuk menunjukkan kelas mereka sebagai bangsa. Maka, kalau ingin maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain, Indonesia masih membutuhkan banyak sekali orang hebat di berbagai bidang kehidupan.

Sampai pada titik ini, semakin jelas, pendidikan yang benar untuk generasi mendatang menjadi semakin krusial. Dan, yang perlu selalu kita sadari, mendidik anak bukanlah sekadar ilmu, melainkan sarat pula melibatkan unsur seni. Anda tak perlu khawatir bahwa seni ini tak bisa dipelajari. Buktinya, banyak orang tua sederhana, yang mungkin tak pernah belajar tentang teori modern pendidikan, ternyata mampu mengantar anak mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang sukses, berguna bagi sesama, dan bahagia.

Seni itu terletak pada kepekaan orang tua membaca dan memahami kecerdasan, talenta, bakat-bakat khusus, minat, antusiasme, dan orientasi sang anak. Semua ini mesti dicermati sejak anak usia dini, kemudian dipupuk dan ditumbuhkembangkan sejalan dengan perkembangan usia. Dengan demikian, ketika anak memasuki usia remaja, sudah mulai tergambar bidang apa yang kelak paling cocok dan membahagiakan sang anak untuk ditekuni. Tahap berikutnya, orang tua tinggal tut wuri handayani.

Seni itu juga terletak pada kepiawaian orang tua menempa anak-anaknya agar memiliki karakter yang kuat. Membentuk karakter anak betul-betul menjadi hak prerogatif orang tua. Perlu ditegaskan di sini bahwa kecerdasan dan talenta adalah karunia, sedangkan karakter adalah pilihan. Menjadi tugas orang tua untuk mengarahkan anak memilih karakter yang kuat. Dalam hal ini, keteladanan orang tua adalah segala-galanya. Sedari kecil, anak akan selalu memerhatikan, misalnya, ketika menghadapi situasi sulit, akankah orang tuanya menghadapi dengan gagah berani atau justru menghindari; kokoh mendukung kebenaran ataukah melencengkan; tekun dan disiplin dalam pekerjaan ataukah gemar mencari jalan pintas.

Karakter yang kuat akan menopang sukses jangka panjang bersama orang lain. Kita sering menyaksikan, orang bertalenta tinggi sekonyong-konyong terpelanting ketika mencapai tingkat sukses tertentu karena tidak memiliki dasar karakter yang kuat untuk menopangnya. Begitu berada di puncak, orang-orang seperti ini biasanya mengembangkan sikap congkak, suka cari gara-gara, atau cuci tangan ketika dihadapkan pada permasalahan yang pelik. Ini semua menyangkut soal karakter.

Nah, seperti akan Anda baca dalam Sajuta kali ini, ternyata memang lingkungan keluargalah yang berperan penting menempa dan membangun karakter sejumlah tokoh sukses di negeri ini.

By Harmanto Edy Djatmiko


Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About me

Nama saya Andi

Disini kepengin share pengetahuan dan pengalaman. Jika kita tidak bisa memajukan Indonesia lewat pembangunan fisik maka marilah kita majukan Indonesia dengan pengetahuan sebagai bekal untuk generasi penerus.



Blog Stats

  • 211,472 hits
%d blogger menyukai ini: