Learning Community

Sindoro Surganya Edelwise

Posted on: 25 November 2008

sindoro1

Gunung Sindoro merupakan gunung yang menarik untuk didaki, banyak pemandangan dan kenangan yang tercipta. Sepanjang perjalanan dari temanggung ke bascamp pendakian sudah disuguhi pemandangan yang menakjubkan, kanan kiri hijau dan jalanan yang berliku-liku sesekali naik turun. Udara dingin selalu menyapa dengan kabut yang mulai menebal saat menjelang malam tiba. Tanaman khas daerah dingin berhamparan ada colt, sawi, wortel, dll. Biasanya tergantung musim dan cuaca. Sebuah perjalanan panjang menanti. Satu kru AVANTE siap menundukkan keganasan gunung Sindoro yang konon terhampar bunga Edelwise yang banyak dicari para pendaki sebagai bunga abadi seabadi jiwa petualangan dan persahabatan.

Malam itu udara terasa dingin dan cuaca agak kurang menguntungkan tampak kabut menebal, satu kru-pun mempersiapkan diri untuk segera naik. Setelah berkemas-kemas dan tidak lupa membaca doa petualanganpun dimulai. Jalur yang dilalui cukup berat. Sepanjang perjalanan sampai pos pertama tampak biasa saja dikanan kiri masih banyak tanaman sawi dan colt, jalannyapun cukup enak untuk dilalui. Setelah puas beristirahat dan memakan satu bungkus roti perjalanan dilanjutkan menuju pos ke-2, kali ini jalan sudah melai susah. Terlihat jalan yang dilalui merupakan jalur air karena agak menyekung dan sempit. Kedua tangan sangat berguna untuk mendaki dan satu hal yang tidak boleh lupa adalah selalu minum air walaupun mungkin tidak terasa haus karena memang udaranya dingin, hal ini yang sering kali menyebabkan para pendaki mengalami dehidrasi karena lupa minum, padahal cairan yang keluar banyak. Setelah menempuh berjalanan beberapa jam akhirnya sampai juga di pos ke-2. Tampak kondisinya tidak seperti pos saja karena tidaka ada atap hanya ada hamparan yang agak datar dan terlihat banyak pendaki yang mendirikan tenda disini, mungkin mereka akan bermalam. Setelah sampai kamipun meyapu ke segala arah untuk mendapatkan tempat yang dapat digunakan untuk istirahat, setelah dapat kita langsung duduk santai sambil mempersiapkan kompor gas untuk memasak sarimi. Di gunung cara kami memasak sarimi agak unik tidak seperti saat kita memasak dirumah atau dikos. Karena keterbatasan alat maka satu panic kecil kita isi air sampai mendidih setelah itu air yang mendidih tadi kita masukkan ke beberapa sarimi, diamkan air dalam bungkus sarimi beberapa menit setelah terlihat sudah matang maka sarimi siap di santap, betul-betul praktis pikirku dalam hati.

Malam masih panjang, setelah cukup beristirahat kamipun siap melanjutkan ke pos berikutnya. Kali ini jalanan terjal siap menghadang didepan. Jalanpun sudah mulai terlihat bukan jalan. Sambil berhati-hati kamipun melangkah terus untuk menggapai puncak, sebuah kebanggaan tersendiri bagi para pendaki bisa sampai punck dan melihat dunia dari ketinggian 3000 kaki, rasanya hidup ini kelihatan kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang terhampar didepan mata, itulah yang selalu terpikir ketika kita bisa berdiri dipuncak itupun kata teman-teman yang sudah sering naik turun gunung. Karena ini merupakan pendakian pertama bagi kami. Pendakian yang akan selalu dikenang dan dirindukan.

Sambil terus berjalan kamipun akhirnya sampai di pos 3, sampai dipos 3 jam menunjukkan pukul 2.00 WIB, sudah hampir pagi. Melihat perjalanan yang masih panjang terpaksa kita memutuskan untuk tidak beristirahat dan terus melanjutkan perjalanan. Hal yang paling disukai dan selalu dicita-citakan oleh para pendaki adalah melihat sunrise dari puncak, Subhananllah itulah saat terindah yang akan selalu dikenang dan tak terlupakan. Karena itulah semangat kita terpacu untuk mewujudkan sunrise di puncak. Tapi apa daya, lewat jam 5.00 pagi ternyata kita masih jauh dari puncak dan terpaksa harus puas tidak dapat melihat sunrise. Dengan hati agak sedih kamipun tetap melanjutkan perjalanan. Setelah melewati beberapa bukit sampailah disuatu tempat yang sangat mengagumkan, mata kamipun tidak dapat berkedip sambil melirik kekanan kekiri dan sejauh mata memandang didepan kami terhampar bunga Edelwise yang sangat indah. Putih, bersih dan bercahaya diterpa matahari pagi menambah suasana kian berseri. Wooooowww Edelwise ………..

Baru pertama kali inlah kami dapat melihat bunga Edelwise yang memang hanya tumbuh di ketinggian 2000 kaki-an. Bunganya para Dewa dan bidadari ….
Perjalanan melewati padang Edelwisepun dimulai, jalanan lumayan mudah dan tidak ada batu batu besar yang menghalangi, sesekali bertemu dengan pendaki yang akan turun, kamipun selalu bertanya “puncak masih jauh” jawabnya dengan enteng “tinggal sedikit lagi, satu plentengan”. Setelah beberapa jam berjalan kok puncak belum terlihat juga, pikirku dalam hati “sebenarnya satu plentengannya orang gunung tuh seberapa ya ? perasaan kalau plentengan orang desa yang biasa buat mainan waktu aku kecil ga sampai jauh deh …..”
Jalanan terus menanjak dan setelah ditunggu-tunggu akhirnya sampai juga di Puuuuuunnnnnccccaaaakkkk …….. yah puncak Gunung Sindoro ……..

Ada sebuah kawah mati yang ukurannya cukup besar dan digenangi air, trus di sekitarnya terlihat para pendaki yang berhasil sampai puncak membuat tulisan dengan cara menata batu yang ada di sekitarnya, ide yang cukup unik. Kulihat pemandangan sekelilingnya memang sunggguh indah dan terlihat maket-maket kehidupan dan kecilnya dunia.
Sambil ceprat-cepret kamipun mengabadikan momen, yang mungkin hanya seumur hidup mengalaminya. Yah puncak Sindoro …………

Di depan terlihat Gunung Sumbing yang tidak kalah gagahnya, melihat itu pikirku dalam hati, “setelah ini kita tundukkan Sumbing”, namun sekarang yang palig penting adalah bagaimana turunnya. Karena setelah matahari bersinar ternyata jalanan cukup terjal dan terlihat mengerikan. Belum lagi hujan mulai turun dan jalanan pasti dangat licin.

Baru berjalan turun belum sampai setengah jam hujan langsung deras dan kamipun segera memakai raincoat dan lebih berhati-hati lagi dalam berjalan karena jalanan memang sangat licin, sesekali kamipun terpeleset dan sedikit meluncur. Uhhhhh …… benar – benar hari yang melelahkan, terbayang kasur yang empuk dan duduk santai dikos…… eh ini malah hujan-hujanan menerjang bahaya …. Tapi itulah tantangannya dan ujian alam yang sangat bermanfaat untuk membentuk diri.
Setelah terpeleset dan jatuh-jatuh akhirnya sampai juga di dataran rendah, tampak perkampungan penduduk sudah terlihat, akhirnya sampai juga ….. kamipun segera menuju bascamp ……..
Sebuah petualangan panjang yang cukup melelahkan tetapi juga sangat mengesankan …… Selamat kembali lagi dikos dan menjalani aktifitas kuliah dengan setumpuk tugas yang sangat membosankan …….. tetapi apa dikata inilah hidup. Jika sudah bosan maka siap untuk berpetualang kembali …… Sumbing sudah menanti …..

sindoro2

sindoro3

1 Response to "Sindoro Surganya Edelwise"

bisa gak ya bunga ini dibudidayakan dan tidak hanya di jaga..
bunganya kan bagus, sayang kalau nanti populasinya bisa atau sampai punah…
blog nya bagus, terimakasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About me

Nama saya Andi

Disini kepengin share pengetahuan dan pengalaman. Jika kita tidak bisa memajukan Indonesia lewat pembangunan fisik maka marilah kita majukan Indonesia dengan pengetahuan sebagai bekal untuk generasi penerus.



Blog Stats

  • 211,472 hits
%d blogger menyukai ini: