Learning Community

Apotik Abad 21

Posted on: 9 Mei 2008

Berawal dari ketertarikan saya terhadap dunia marketing yang semakin lama semakin maju, dimana peran konsumen menjadi sangat signifikan dan penting dengan makin ketatnya persaingan. Suatu ketika saya sakit sariawan dan kayaknya tidak perlu ke dokter untuk berobat karena saya pikir dengan beli obat sariawan di Apotik sudah cukup. Sore itu saya langsung pergi ke Apotik terdekat di Jalan Kaliurang, beruntung yang jaga mba-mba saya tanya panjang lebar mengenai obat sariawan. ‘ Mba ….. obat sariawan ada? ‘Mbanya menjawab : ‘ada mas ….’ Sambil mencari obatnya dan ditaruh didepan saya. Kemudian saya amati obat tersebut, trus saya Tanya lagi : ‘ada yang merek lain ga’ mba?’ Mbanya jawab : ‘ada mas’. Kemudian mbanya mencari lagi dan menyodorkan beberapa merek obat sariawan ke depan saya. Melihat banyak pilihan obat sariawan saya jadi bingung harus pilih yang mana, kemudian saya Tanya lagi : ‘Mba yang paling manjur yang mana ?’ mbanya jawab : ‘Yang ini lebih manjur mas dalam satu dua hari sudah sembuh, tapi harganya lebih mahal dibanding merek lainnya karena khasiatnya memang beda mas ‘.

Kasus diatas sering kali dialami oleh para konsumen yang hendak beli obat tetapi pengetahuan tentang obat masih kurang. Kasus diatas merupakan kasus yang sederhana tetapi sering kali menentukan kepuasan tersendiri bagi konsumen, dan hal ini masih kurang diperhatikan olek hampir semua Apotik di Indonesia. Padahal dalam dunia marketing pembeli adalah raja, jadi bagaimana kita memberikan pelayanan yang terbaik untuk sang raja sangat menentukan keberhasilan kita dalam menjual suatu produk. Pelayan yang baik akan memberikan kesan yang tidak akan terlupakan oleh sang konsumen dan secara tidak langsung konsumen akan mempromosikan toko kita ke konsumen lainnya karena merasa pelayanan kita sangat memuaskan. Memberikan kesan baik terhadap konsumen merupakan cara paling efektif untuk mengambil hati dan membentuk brand. Setiap konsumen pasti ingin dirinya dilayani dengan baik dan diberikan informasi mengenai apa yang akan dia beli, sehingga dia merasa puas dan tidak kecewa.

Bagi banyak orang pergi ke apotek atau toko obat bukan hal yang menyenangkan, karena identik dengan orang sakit. Bau obat dan desain toko yang memeperlihatkan obat dimana mana membuat orang tidak nyaman untuk berlama lama. Belum lagi rasa bingung yang sering dialami oleh para konsumen yang hendak membeli obat, yang kurang direspon oleh para penjaga apotek, karena merekapun sibuk untuk meracik dan mempersiapkan obat yang dipesan oleh konsumen. Konsumen harus rela berlama lama nunggu sampai obat yang dipesan siap, bisa butuh 20 – 30 menit sampai obat pesanan itu dimasukkan ke kantong obat. Setelah obat yang dipesan tersedia konsumenpun hanya diterangkan tentang dosis pemakaian harus dimakan 3 kali sehari atau 2 kali sehari tanpa dijelaskan apa nama dan jenis obatnya, bagaimana efek sampingnya, dan pertanyaan lainnya yang kadang hanya bisa di simpan di benak para konsumen yang merasa bingung saat dikasih obat begitu banyak dengan jenis yang berbeda beda.

Lebih jauh, kita lihat apotek-apotek yang ada di rumah sakit, desainnya sangat tidak berpihak pada konsumen. Konsumen berkomunikasi dan menyodorkan resep hanya dari lubang kecil seperti loket pembelian karcis di bioskop-bioskop. Belum lagi harus menunggu antrian pesanan obat sampai namanya dipanggil. Bagi kebanyakan pembeli menunggu bukanlah hal yang menyenangkan bahkan sangat membosankan.

Berbeda dengan desain dan layanan apotek yang ada di pinggir jalan, ada yang berbentuk toko, dengan desain terbuka bagian depannya, sehingga debu dan kotoran lainnya bebas keluar masuk apotek. Hal ini sangat bertentangan dengan citra apotek yang harusnya menjaga kebersihan. Ada juga desain yang tertutup dan cukup nyaman jika kita masuk kedalam karena sudah ada pendingin ruangannya dan tersedia juga dokter jaga yang siap melayani kita pada jam-jam tertentu. Tetapi desain dalamnya tidak jauh beda seperti model toko tadi.
Sungguh ironi memang kondisi apotek di negeri kita tercinta, karena masih jauh dari harapan konsumen layanan yang diberikan apotek dalam melayani pembeli, padahal tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk membeli obat.

Berawal dari situlah saya ingin menciptakan trend baru yang saya sebut Apotik Abad 21. Disini apotik yang saya rancang sangat berbeda dengan apotik yang ada bahkan di Indonesia system ini belum ada yang menggunakannya. Beberapa hal yang ingin saya kembangkan antara lain :

Pertama : Saya menerapkan ilmu marketing dengan psikologi konsumen. Dengan memadukan keduanya maka kepuasan konsumen akan terpenuhi.

Kedua : Desain Apotik yang menarik dan nyaman bagi konsumen yang mau membeli obat. (Ada ruang tunggu yang lumayan luas, obat di pajang di rak atas dan hanya obat yang sering dibeli oleh konsumen yang di pajang stok obat lainnya ditaruk di rak – rak belakang tembok tempat pelayanan sehingga tempat tidak terlihat menyeramkan.

Ketiga : kecepatan pelayanan dengan menggunakan teknologi informasi yang terintegrasi, sehingga apa yang dibutuhkan konsumen cepat terlayani dan meningkatkan akurasi data yang digunakan untuk menetukan kebijakan dan obat yang sering dibutuhkan konsumen, hal ini bermanfaat untuk menjaga stok barang.

Keempat : Memberikan pelayanan gratis seperti timbang badan dan tensi darah serta memberikan informasi seputar kesehatan yang dibutuhkan konsumen. (memberikan pelayanan konsultasi kesehatan) atau knowledge program.

Kelima : Layanan khusus member antara lain : Dapat harga khusus, Layanan antar ke tempat, dan fasilitas menarik lainnya.

Keenam : Buka 24 jam, dengan layanan lengkap di satu tempat dari mulai praktek dokter, konsultasi, dll. 

About these ads

14 Tanggapan to "Apotik Abad 21"

Dear mas Andi ,
boleh jug tu idenya btw kita bisa berbisnis nih , btw kunjungi bertindak.wordpress.com

Dear Mas Andi,
itu seperti konsep apotik yg org2 idam2kan, dan tentunya jg butuh anggaran dana yg besaaaaarrrrr. soalnnya selama ini klo diamati apotik2 yg ada menggunakan dana seminim mungkin… trus gmn dgn “sistem” pembayaran jasa layanan konsumen? soalnya menurut pemilik apotik yg saya kenal, mereka agak kesulitan menerapkan tarif konsultasi ke pasien. yah tega n ga tega katanya… tapi apotik klo mau seperti itu musti ada “sistem” yg baku untuk tarif konsultasi yg tidak memberatkan pasien tapi juga tdk merugikan apotik jg…. gmn yah? ada ide?

Jadi gini saya kira Anda dapat melakukan misal untuk konsultasi ringan yang ga perlu kedokter dibuat gratis aja dan Anda juga dapat melakukan diskon atau ada perbedaan harga untuk member.
Untuk membangun sebuah layanan saya kira ga perlu dana besar itu tergantung kreativitas kita aja.

Pernah mendesain apotek, Mas? Mau dong di-share ke saya.

Mba Meea kalau mendesain secara detail belum pernah … dan terus terang saya sarankan kalau Anda ingin membuat Apotek cobalah survey dan tanya-tanya ke orang yang sudah memiliki apotek. Kalau masih kesulitan dan masih tidak pede (ragu-ragu, karena modalnya juga tidak sedikit) atau masih takut kalau nanti tidak laku atau gulung tikar, Anda saya sarankan untuk membeli waralaba saja, disamping lebih kecil resikonya juga bisa untuk media belajar untuk jangka panjang dan pilihlah waralaba yang sudah terbukti.

saya bukan mau buka apotek, tp saya desainer yg lagi mengumpulkan referensi tentang desain apotek. mgkn mas ada link-nya? oya soal waralaba, menurut saya juga prospeknya bagus. mas Andy profesinya apoteker ya?

To Meea, Saya bukan apoteker jadi sebatas tahu dari baca-baca, mungkin sebagai referensi meea dapat mencari di google, saya rasa akan banyak sekali informasi yang bisa didapat khususnya desain apotek yang ada dinegara-negara maju seperti apa …. mungkin bisa diterapkan di Indonesia tentunya dengan modifikasi

menurut saya kriteria apotek abad 21 ini uda ada di apotek kimia farma…
mas andy udah buka apotek?

salam mas Andy,
saya kira konsep Apotek Abad 21 sudah diterapkan pada Apotek Melawai bukannya Kimia Farma.
yang Jadi masalah saya adalah berapa besar minimal dana yang diperlukan untuk buka usaha apotek dan berapa lama BEP nya, bila kita terapkan harga-harga dibawah rata-rata apotek yg ada.makasih salam

Salam hangat mas Andi,
Sangat bagus tulisannya. Sepertinya sampeyan tahu betuk detail beluk apotek. Kebetulan apotek saya sudah berjalan hampir setahun dan kekurangannya seperti yang mas Andi tulis itu. Insyaallah tahun depan target saya akan saya penuhi kriteria apotek aya sesuai saran dari mas.

suwun Mas,
Soelistiyo

salam sukses mas soelistyo

Salam kenal mas Andy…
makasih ya atas saran rancangan srategi aptk 21 nya…
sy seorang apoteker, jga akan launching aptk sndiri….
tp klo sperti desain aptik melawai sih kyaknya memang butuh modal yg cukup besar. yg gmn nih….ada ndak strategi modal mini kualitas maxi ato ada trik2 yg jitu ttg marketingnya??
thank

Syukron Jazakallah

nice idea, thanks for writing this article

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About me

Nama saya Andi

Disini kepengin share pengetahuan dan pengalaman. Jika kita tidak bisa memajukan Indonesia lewat pembangunan fisik maka marilah kita majukan Indonesia dengan pengetahuan sebagai bekal untuk generasi penerus.



Blog Stats

  • 137,487 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: