Learning Community

Hiduplah Dengan Lebih Bermakna

Posted on: 23 April 2008

Hidup yang kita jalani terkadang begitu berliku-liku dan penuh dengan duri dan tanjakan-tanjakan tajam. Disini saya ingin memberikan sebuah gagasan untuk lebih memotivasi hidup agar hidup yang kita jalani ini lebih bermakna dalam naungan nilai-nilai Islam. Keadaan yang akan saya sampaikan mungkin akan sering Anda temui di masyarakat kita dan mungkin Anda sendiri mengalaminya.

Bagaimana agama kita mengajarkan kepada manusia untuk menjalani hidup, sebenarnya sudah sangat lengkap dan dicontohkan oleh baginda nabi Muhammad Saw. Tetapi terkadang kita tidak menyadarinya dan kurang memahaminya akan potensi yang kita miliki. 

Untuk lebih memaknai hidup ada beberapa hal yang perlu kita lakukan :

Kenali Potensi Yang Kita Miliki

Setiap manusia tentunya punya potensi yang dimiliki secara alamiah, namun tidak sedikit yang tidak mengetahui dan memahami apa potensinya. Pencarian akan jati diri sebenarnya adalah sebuah proses untuk mencari potensi. Sebagai seorang muslim kita memiliki potensi yang sangat besar untuk melakukan perubahan pada lingkungan dan diri kita sendiri.

Di masyarakat banyak sekali jargon-jargon yang sering kali disalah artikan dan akhirnya akan dapat menjerumuskan manusia kepada sifat malas atau pasrah pada sebuah keadaan. Seperti misalnya ada yang bertanya kita harus lebih maju dibandingkan dengan yang lain, maka orang ini dengan diplomatis menjawab ” yah biarlah kita mengalir seperti apa adanya, biarlah waktu yang menjawab ”, hal ini sering kali mendorong kita untuk pasrah menerima keadaan tanpa mengeluarkan semua potensi yang kita miliki untuk merubahnya.

Terkadang saya berpikir, saya sudah hampir 8 tahun di Yogya, waktu saya pulang ke kampung halaman saya, saya sempat berpikir kenapa Pak A yang dulunya jualan tempe sampai sekarang masih saja jualan tempe dengan volume yang hampir sama, Bu B yang dulu jualan jamu keliling masih saja jualan jamu secara berkeliling dari desa satu ke desa yang lain. Yang saya lihat kenapa mereka tidak berubah, yang dulunya sengsara masih saja sengsara bahkan mungkin lebih sengsara lagi karena sekarang biaya hidup semakin mahal.

Banyak juga teman-teman saya yang dulu waktu sekolah cerdas dan pintar, dan dengan lantang mereka berkata ingin menjadi Dokter, ingin menjadi Pilot, ingin menjadi Ilmuwan, ingin menjadi Guru saat Ibu guru menayakan apa cita-citanya kelak. Tetapi setelah saya lihat apa yang mereka cita-citakan banyak yang tidak bisa meraihnya bahkan sangat jauh dari angan-angan. Ada si A yang malah menganggur, bingung harus kerja apa karena sudah kesana kemari tidak ada kerjaan.

Saya merasakan tidak ada perubahan yang berarti dengan apa yang saya lihat delapan tahun dulu.

Kenapa hal ini bisa terjadi ?

Jawabannya karena mereka tidak mau berubah.

Kenapa tidak mau berubah ?

Karena memang mereka tidak tahu harus berubah, bahkan kalaupun mereka tahu harus berubah mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk berubah. Sebab mereka sudah terbiasa dengan hidup pasrah. ”Dengan begini aja sudah cukup kenapa kita harus cape-cape membanting tulang”, itulah biasanya yang tersirat dalam hati mereka. Dan cara hidup inilah yang diwariskan turun temurun terhadap generasinya.

Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka dapat dipastikan suatu desa tidak akan pernah maju walaupun 10 tahun lagi. Sebab apa yang mereka hasilkan selama 10 tahun sebenarnya sama saja dengan apa yang telah diperoleh sekarang jika dibandingkan dengan kemajuan desa/kota lain. Lalu pertanyaan besarnya adalah kapan negeri ini bisa maju kalau keadaannya seperti ini ?

Banyak dari masyarakat kita yang bermental lemah dan pasrah dengan keadaan. Orang-orang yang rela ditindas oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau pasti bisa hidup merdeka, jaya dan sejahtera dengan potensi yang Allah berikan kepada kita. Tetapi sering kali kita tidak menyadarinya.

Kenapa kita tidak menyadarinya ?

Jawabannya karena kita sudah terbiasa hidup apa adanya, sehingga kepekaan hati dan jiwa akan potensi yang Allah berikan sangat kurang bahkan banyak yang tidak menyadarinya.

Allah berfirman, ”kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” (Al Imran : 110). Karena itulah marilah kita bermental menjadi umat terbaik bukan bermental menjadi umat yang terbelakang.

Jika kita tengok kebelakang, sejarah kejayaan Islam tidak terlepas dari jasa orang-orang islam kala itu. Saat itu islam memimpin dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu lannya. Islam telah melahirkan banyak ulama-ulama besar di bidangnya seperti Ibnu Sina yang pakar di bidang ilmu kedokteran. Hal itu terjadi karena umat Islam tahu akan potensi yang Allah berikan kepada mereka dan mereka memanfaatkan potensi tersebut semaksimal mungkin untuk kemajuan Islam dan peradaban.

Allah berfirman dalam Al Quranulkarim bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai kaum tersebut merubah nasib/keadaannya sendiri. Disini jelas kita dituntut untuk selalu melakukan perubahan dari detik ke detik, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun dan dari abad ke abad untuk menuju ke yang lebih baik. Orang bijak berkata ”hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” …….

Keadaan inilah yang mendorong diri setiap muslim untuk selalu selangkah lebih maju dan secara bertahap menuju kepada cita-citanya yang selalu dibalut dengan ikhtiar, tawakal dan cinta kepada Allah dengan selalu mencari ridlo-Nya. Muslim sejati adalah muslim yang mampu mengembangkan dan mengasah potensi dirinya dengan ilmu, pengalaman dan pemahaman yang benar akan Islam.

Untuk menggapai apa yang kita cita-citakan, maka kita harus bekerja keras dan tidak kenal menyerah. Kegagalan dan cobaan adalah sebuah pengalaman yang berharga yang akan menghantarkan kita pada kemenangan yang sesungguhnya.

Kita harus berani melakukan inovasi-inovasi dan berimprovisasi. Ada seorang pedagang yang sangat rajin dan giat. Jam tiga dini hari sudah bangun untuk merapikan dagangannya sebelum subuh sudah berangkat ke pasar dengan membawa dagangannya dan dia selesai berdagang jam satu siang, kemudian pulang dan menyiapkan dagangannya untuk besok paginya sampai jam sebelas malam hal ini terus berlanjut sampai sekarang sudah bertahun-tahun lamanya.

Kenapa kok tidak kaya-kaya tetap miskin dan malah banyak hutang ?

Untuk menjawab hal tersebut kita perlu renungkan, bahwa rajin dan giat itu tidak cukup, ada yang lebih penting sebelum rajin dan giat yaitu alasan kenapa kita harus rajin dan giat. Ada giat yang hanya menimbulkan letih saja namun ada juga yang melahirkan hasil yang luar biasa. Banyak orang yang tidak dapat membedakan antara sibuk dan produktif. Dan kebanyakan dari orang-orang yang hanya sibuk tetapi hasilnya sedikit, mereka adalah orang yang tidak memiliki target dan tujuan. Jadi rajin dan giat saja tidak cukup tetapi hidup ini jika ingin lebih bermakna harus punya target dan tujuan kedepan.

Jangan Menggantungkan Hidup Pada Orang Lain

Setelah kita dapat mengenali potensi maka kita harus berusaha mandiri untuk mencapai kemajuan. Sebab apabila kita terlalu menggantungkan diri kepada orang lain maka saat orang lain ini riada maka kita akan seperti layang-layang putus yang tidak tentu arah. Kita harus dapat eksis dan survive dalam menghadapi cobaan hidup.

Walaupun mungkin pendidikan kita hanya tamat SD, selama ada ruh untuk maju maka insaallah apapun dapat diraih. Dapat kita lihat kisah-kisah pengusaha sukses yang hanya tamatan SD. Mereka dapat memiliki omset milyaran per tahun, padahal mereka hanya mengenyam pendidikan SD tetapi perlu diingat bahwa mereka kenyang dengan pengalaman dan cobaan hidup. Sehingga mereka sudah sangat terlatih untuk menghadapi keadaan seburuk apapun. Bisa diibaratkan seperti kopasus, pasukan elitnya angkatan darat, yang sudah sangat terlatih untuk menghadi berbagai medan pertempuran.

Jadi sebenarnya tidak ada kata-kata kita menganggur jika kita mau berusaha. Namun seringkali di dalam masyarakat kita seseorang yang berwirausaha masih dipandang sebelah mata diandingkan dengan orang yang ekerja dikantoran, padahal jika kita lihat pendapatan berbulan mereka boleh jadi jauh lebih besar dari pada pekerja kantoran yang dianggap lebih terhormat dan lebih disegani dimasyarakat. Sehingga masyarakat kita elum enar-benar terlatih untuk mendiri. Bukankah membuka peluang kerja itu merupakan ibadah.

Banyak dari kita tanpa disadari bahwa saat kita lulus misalkan sarjana dari sebuah universitas, maka yang pertama kali terlintas adalah mencari kerja yang notabene banyak saingannya. Dan hal inilah salah satu alasan kenapa di Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim, tinggi sekali tingkat pengangurannya. Hal ini memang tidak bisa lepas dari sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia. Tetapi hal ini mulai bergeser, pendidikan kita sudah mulai mengarah ke pembentukan jiwa enterpreneurship.

Pada suatu ketika saya bertanya kepada teman saya yang sudah tingkat akhir, ”setelah lulus nanti mau ngapain ?” dengan mantap dia menjawab mau buka usaha. Dalam hati, saya betul-betul salut dengan teman saya itu. Dalam ucapannya tersimpan ruh untuk mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Dan dia betul-betul mantap dengan rejeki yang akan Allah berikan kelak dari hasil jerih payahnya.

Rejeki sudah ada yang mengatur”, terkadang kata-kata inilah yang terkadang menjadi penghibur hati disaat kita susah. Namun sering kali kita salah dalam memahaminya. Kita lebih suka pasrah ketimbang berusaha untuk merubah keadaan. Bukankah apa yang Allah berikan kepada kita akan sesuai dengan apa yang sudah kita usahakan.

Bersyukurlah

Bersyukur dengan semua pemberian Allah yang telah diberikan kepada kita merupakan hal yang sangat baik. Sangat baik karena dapat membentuk mental kita menjadi mental yang tahan uji. Baik disaat senang maupun susah kita akan selalu bersyukur mengagungkan nama Allah, sehingga hidup kita akan dipenuhi dengan ruh positif dan selalu berpikiran positif dengan semua cobaan yang Allah berikan.

Bayangkan jika semua manusia di dunia ini bersyukur maka dunia akan sangat damai dan nyaman. Bukankah dengan bersyukur akan memberikan ketenangan hati dan kejernihan berpikir. Ketenangan yang tidak semua orang dapat merasakan. Kedamamaian hati yang tidak membuat orang was-was dan khawatir akan hari esok.

Bersyukur itu indah, yang akan meleburkan antara si miskin dan si kaya, antara yang mampu dan tidak mampu, antara penguasa dan rakyatnya, antara dunia dan akherat.

Tetapi perlu diingat bahwa bersyukur bukan berarti pasrah tetapi harus terus maju dan berikhtiar semaksimal mungkin. Tidak ada kamus menyerah dalam Islam. Ingatlah ”hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok adalah masa depan hari ini

Kita juga perlu renungkan bahwa kelak akan mempertanggung jawabkan semua yang telah kita usahakan, tentang kemalasan kita, tentang keputusasaan kita dan tentang yang lainnya.

Sebagai kata penutup marilah jadikan hidup kita lebih bermakna baik bermakna untuk diri kita sendiri, untuk keluarga yang kita cintai, untuk lingkungan tempat kita bernaung dan untuk bangsa dan agama tercinta.

NB.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat memotivasi kita untuk lebih hidup dalam menjalani hidup. Dan penulis akui apa yang saya tulis belum sepenuhya dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan masih sangat jauh dari kenyataan tetapi marilah kita berusaha untuk memperbaiki kualitas hidup kita.

Yogyakarta 22 April 2008

Jam 22.15 Wib

 

6 Tanggapan to "Hiduplah Dengan Lebih Bermakna"

bagus sekali…

terimaksih atas tulisan ini
moga kita bisa lbh baek dr kmrn
lam knl ya.
tinggal dijogja ya?kul dimn??

Oke, hidup memang harus bermakna, memiliki arti bagi diri sendiri, orang lain dan alam sekitar, setuju. sekedar pelengkap bagi kawan boleh baca : FALSAFAH; Menjadikan hidup agar lebik bermakna di blog http://zaynalmustafa.blogspot.com

🙂

sEmaNGat,,,!!!!!!

sALaM keNaL,,,

q jUga sLalU bRusAha uNtuk jAdI lEbiH baIK tiaP haRinyA,,
q JuGa uDah pUnya baNYak TargEt uNtuk maJu,,,
q jUga SLaLu beLajaR uNtuk sELalu maNdirI

taPi Q meRasa kUraNG baHAgia,,,,,,

keNapa Yah???

kaRena teRnyaTa q KUraNG raSA sYukUr m nIkmaT Alloh,,,

tuLisannya beRmanfaAt,, thAnks,,,

sMogA Alloh seLalu meRidhoi LangkaH kiTa,, aMIn,,,,

kehidupan orang lain itu cerminan kita, jadi orang yang saudara katakan bukan berarti 1. tidak memiliki motivasi yang tinggi, walaupun sudah berusaha keras, atau tidak memiliki target hidup. akan lebih termotivasi apabila saudara mengatakan bahwa orang yang “tidak beruntung itu harus kita bantu mencari kesempatan yang lebih baik, atau minimal orang tersebut menjadi cerminan bahwa hidup itu berwarna-warni, so don’t judge by the color…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About me

Nama saya Andi

Disini kepengin share pengetahuan dan pengalaman. Jika kita tidak bisa memajukan Indonesia lewat pembangunan fisik maka marilah kita majukan Indonesia dengan pengetahuan sebagai bekal untuk generasi penerus.



Blog Stats

  • 211,472 hits
%d blogger menyukai ini: