Learning Community

Darah Di Samudra Biru

Posted on: 22 April 2008

Perang tarif dalam industri telekomunikasi seluler Indonesia memasuki babak baru. Benarkah cuma tarif satu-satunya andalan bersaing ?

Hari ini kita melihat begitu gencarnya operator-operator seluler melakukan promosi dengan segala janji dan kemurahan tarif layanan. Baik pemain baru maupun pemain lama harus benar-benar menguras energi untuk adu gengsi dan prestise, tensi persaingan meningkat tajam. Operator-operator seluler baik pemain baru maupun pemain lama tidak segan untuk mengeluarkan uang bermilyar-milyar untuk promosinya, guna meraih pangsa pasar.

Hasil pemantauan Nielsen Media Research selama dua bulan pertama 2008 sungguh mencengangkan. Simpati menempati urutan pertama dalam belanjanya untuk iklan. Pada periode tersebut, PT Telkomsel menghabiskan Rp 33,01 miliar. Sedikit di bawah Simpati, ada XL Bebas yang menghabiskan Rp 32,02 miliar. Menyusul PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL), dua produk milik PT Indosat, yaitu IM3 dengan belanja iklan Rp 32 miliar dan Mentari dengan pengeluaran Rp 30,05 miliar. Operator papan bawah dan operator baru juga tak kalah heboh dalam beriklan. PT Mobile-8 Telecom Tbk. menghabiskan Rp 27,64 miliar untuk mengiklankan produk andalannya, Fren. Sementara itu PT Hutchison CP Telecommunications (HCPT) yang memiliki merek 3 (three) menghabiskan tak kurang dari Rp 25,13 miliar.

Sebuah pertanyaanpun muncul, ini sebenarnya perang tarif atau perang iklan ?. disini dapat dilihat bahwa semangat persaingan sangat kental dari pada untuk menimbulkan atau menciptakan nilai-nilai baru pada masyarakat. Akibatnya, muncullah aksi saling balas antarmerek.

Dalam industri telekomunikasi sekarang ini produk dan distribusi sudah tidak bisa lagi diandalkan sebagai keunggulan, karena masing-masing operator telah memiliki hal ini, yang sekarang tersisa adalah bersaing dalam hal harga dan promosi. Hal ini dapat dilihat banyaknya iklan-iklan ditelevisi dan kehebohan-kehebohan karena murahnya tarif. Operatorpun saling berbalas Telkomsel menawarkan Rp. 0,5/detik setelah menit pertama, XL pun menjawab tantangan Telkomsel dengan mengeluarkan tarif Rp. 0,1/detik. Walaupun XL sudah sangat kecil tarifnya Indosatpun tidak kalah berani menantang XL dengan tarif Rp. 0,01/detik. Merasa terkalahkan XL langsung menurunkan tarifnya menjadi Rp. 0,000001/detik. Sehari kemudian Indosat menawarkan tarif Rp 0,0000000…1/detik atau sama dengan gratis.

Perang tarif ini akan terus berlanjut untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar. Walaupun dengan menurunkan tarif semurah mungkin berarti akan mengurang margin. Dengan mendapatkan volume pasar yang lebih besar walaupun dengan margin sedikit toh total margin akan tetap besar.

Namun perlu diingat oleh operator bahwa harga/tarif bukanlah segalanya hal ini terlihat masih banyaknya pelanggan yang tetap setia dengan operatornya. Disamping harga ada pertimbangan lain yaitu kualitas layanan, coverage, freedom (tidak banyak aturan) dan transparansi. Jika hal ini masih sangat memuaskan untuk konsumen maka konsumen akan sangat setia kepada operatornya walaupun operator lain menawarkan tarif yang lebih murah. Belum lagi jika harus ganti nomor maka akan menmbah kerjaan yaitu harus memberitahu semua teman, kolega dan kenalan lainnya akan perubahannya nomornya yang memakan cukup banyak energi.

Jika tidak ingin berdarah-darah maka opertor harus lebih inovatif dalam memberikan layanannya. Operator seluler harus berpikir keras untuk bisa memenangkan persaingan.

Bagaimana pendapat anda apakah kedepan murahnya tarif layanan masih menjadi primadona ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About me

Nama saya Andi

Disini kepengin share pengetahuan dan pengalaman. Jika kita tidak bisa memajukan Indonesia lewat pembangunan fisik maka marilah kita majukan Indonesia dengan pengetahuan sebagai bekal untuk generasi penerus.



Blog Stats

  • 211,472 hits
%d blogger menyukai ini: